Masalah-masalah sanitasi yang banyak ditemui bagi sebagian besar  masyarakat adalah diantaranya tempat pembuangan sampah yang tidak teratur, saluran pembuangan air yang tidak layak  bahkan sudah tidak berfungsi lagi, dan penggunaan sumber air yang kurang memenuhi syarat-syarat yang ditentukan.  Berdasarkan hasil survey di desa Ciampea terlihat bahwa warga lebih dominan membuang sampah di halaman rumah dan kemudian dibakar. Hal ini dikarenakan letak tempat pembuangan sampah yang jauh dari tempat tinggal warga. Sedangkan  bentuk sampah yang paling banyak dibuang oleh warga adalah plastik.

Untuk pembuangan air limbah rumah tangga warga lebih banyak membuangnya lewat septic tank. Air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari berasal dari sumur dan bahan bakar yang digunakan adalah elpiji. Hampir tidak ada rumah warga yang menggunakan minyak tanah sebagai bahan bakar. Berkaitan dengan pengelolaan lingkungan, dari 25 responden yang diwawancarai, sebagian besar mengatakan bahwa telah pernah diadakan gerakan kebersihan dengan diketuai  eloh ketua RT serta ada yang mempunyai kesadaran dari karang taruannya, dan sebagian besar juga responden mengatakan bahwa kebersihan kampung tersebut dirasa cukup.

Hal yang paling berbeda disini adalah bahwa di daerah ini banyak terdapat pabrik, diantaranya pabrik kapur, pabrik kerupuk, pabrik cuka, dan lain-lain. Dari semua responden sebagian besar mengetahui adanya pabrik, tetapi ada juga yang tidak mengetahui adanya pabrik, hal ini dikarenakan waktu melakukan wawancara dengan jarak rumah yang cukup jauh. Dilihat dari tingkat kenyamanan warga dengan adanya pabrik tersebut, sebagian besar mengatakan bahwa mereka tidak terganggu dengan adanya pabrik, hal ini dikarenakan jauhnya letak pabrik dari pemukiman penduduk.

Selain itu, masalah yang menyangkut mengenai kesehatan lingkungan meliputi pula perumahan, pembuangan kotoran hewan, pencemaran, Dalam rangka membenahi masalah ini, maka peran serta masyarakat beserta aparat pemerintah harus dipadukan agar masalah ini dapat diselesaikan dengan baik. Usaha-usaha tersebut diantaranya adalah melalui penciptaan pola hidup bersih bagi masyarakat. Hal ini juga dipengaruhi oleh tingkat pendidikan yang ada pada masyarakat tertentu.

Dengan semakin tingginya tingkat pendidikan seseorang, maka diharapkan dapat meningkatkan pula pemahaman dan persepsi serta penerimaan informasi mengenai sanitasi lingkungan. Sehingga dalam hal ini dapat meningkatkan pula kesehatan masyarakat yang bersangkutan.

Transformasi adalah masukknya DNA ke dalam sel hidup. Dalam hal ini seperti yang dilakukan Fred Griffith tahun 1928,yang mendemonstrasikan bahwa mutan non-patogenik (R) dapat ditransformasi menjadi bentuk patogenik (S).  Ia menyuntik tikus dengan campuran bakteri bentuk R hidup dengan bakteri bentuk S yang telah dibunuh dengan pemanasan.  Hal yang luar biasa terjadi adalah bahwa akibat suntikan tersebut tikusnya mati. Suntikan Pneumococci R hidup atau Pneumococci S mati tidak mengakibatkan kematian tikus. Dengan demikian, Pneumonococci S mati telah mentransformasi Pneumococci R hidup (non patogenik) menjadi Pneumococci S yang patogenik dan mengakibatkan kematian tikus. Dari percobaan selanjutnya ditemukan bahwa transformasi bakteri R ke S dapat berlangsung secara in vitro. Yaitu bahwa bakteri bentuk R jika ditambahkan ekstrak sel (cell-free extract) Pneumococci yang telah dibunuh, beberapa diantaranya mengalami transformasi menjadi bentuk S.  Hasil penelitian ini kemudian meletakkan dasar-dasar pencarian agen yang mengakibatkan transformasi tersebut (Jusuf 2001).

Polymerase Chain Reaction (PCR) adalah metode amplifikasi enzimatis urutan DNA tertentu secara invitro. Perbedaannya dengan kloning (yang menggunakan cara introduksi DNA ke dalam sel inang bakteri, fage atau ragi) adalah, bahwa replikasi DNA pada PCR berlangsung dalam tabung reaksi, sehingga dinamakan ”kloning molekul bebas sel” (cell free molecular cloning). PCR dapat melakukan amplifikasi urutan DNA spesifik sampai jutaan kali lipat melalui prosedur yang sangat sederhana. PCR merupakan teknik potensial yang ramifikasinya dalam Biologi Molekular masih terus berkembang (Walker and Gingold, 1993). Polymerase chain reaction (“reaksi [be]rantai polimerase”, PCR) merupakan teknik yang sangat berguna dalam membuat salinan DNA. PCR memungkinkan sejumlah kecil sekuens DNA tertentu disalin (jutaan kali) untuk diperbanyak (sehingga dapat dianalisis), atau dimodifikasi secara tertentu. Sebagai contoh, PCR dapat digunakan untuk menambahkan situs enzim restriksi atau untuk memutasikan (mengubah) basa tertentu pada DNA. PCR juga dapat digunakan untuk mendeteksi keberadaan sekuens DNA tertentu dalam sampel.

Proses PCR untuk memperbanyak DNA melibatkan serangkaian siklus temperatur yang berulang dan masing-masing siklus terdiri atas tiga tahapan. Tahapan yang pertama adalah denaturasi cetakan DNA (DNA template) pada temperatur 94-96 °C, yaitu pemisahan utas ganda DNA menjadi dua utas tunggal. Sesudah itu, dilakukan penurunan temperatur pada tahap kedua sampai 45-60 °C yang memungkinkan terjadinya penempelan (annealing) atau hibridisasi antara oligonukleotida primer dengan utas tunggal cetakan DNA. Primer merupakan oligonukelotida utas tunggal yang sekuens-nya dirancang komplementer dengan ujung fragmen DNA yang ingin disalin; primer menentukan awal dan akhir daerah yang hendak disalin. Tahap yang terakhir adalah tahap ekstensi atau elongasi (elongation), yaitu pemanjangan primer menjadi suatu utas DNA baru oleh enzim DNA polimerase. Temperatur pada tahap ini bergantung pada jenis DNA polimerase yang digunakan. Pada akhirnya, satu siklus PCR akan menggandakan jumlah molekul cetakan DNA atau DNA target, sebab setiap utas baru yang disintesis akan berperan sebagai cetakan pada siklus selanjutnya (Newton and Graham, 1994).

Primer PCR adalah oligodeoksiribonukleotida pendek, atau oligomer, yang didesain komplemen dengan urutan ujung target produk PCR. DNA sintetik ini biasanya sepanjang 15-25 nukleotida dan memilki kandungan G+C minimal sebanyak 50%. Primer dapat berupa urutan DNA yang telah diketahui (primer spesifik) atau urutan DNA turunan yang diprediksi dari urutan asam amino protein yang disandi, dinamakan degenerate primer. Masing-masing dari dua buah primer tersebut komplemen dengan untai yang berbeda pada urutan target beruntai ganda, maka kedua primer tersebut tidak ada kaitan satu sama lain. Urutan primer harus dijaga agar tidak membentuk struktur dupleks atau hairpin loop antar dirinya sendiri. Ujung 3’ primer harus cocok atau komplemen dengan target agar polimerisasi berjalan efisien. Ujung 5’ primer dapat memiliki urutan yang tidak komplemen dengan target, sehingga mengandung sisi enzim restriksi atau sisi promotor yang akan tertempel pada produk PCR.

Bufer PCR untuk DNA polimerase terdiri dari 50 mM KCl dan 10 mM Tris-HCl, pH 8,3 pada suhu kamar. Bufer ini memberikan kekuatan ion dan kapasitas bufer yang diperlukan selama reaksi.Penambahan KCl sampai kadar 50 mM diperlukan untuk memudahkan proses annealing. Tetapi kadar KCl >50 mM dan NaCl=50 mM akan menghambat aktivitas DNA polimerase Taq.

Dalam percobaan transformasi bakteri, untuk pembuatan sel kompeten digunakan media padat (E. coli)  yang diambil dengan menggunakan tusuk gigi. Hal ini bertujuan untuk memperoleh koloni yang tunggal. Dalam hal ini juga menggunakan kontrol positif dan negatif. Kontrol positif digunakan untuk meyakinkan bahwa bakteri kompeten masih bisa hidup di media yang tidak mengandung agen seleksi , sedangkan kontrol negatif digunakan untuk meyakinkan bahwa media yang digunakan bias untuk mematikan bakteri tipe liar yang tidak mengandung gen penyeleksi. Selain itu juga digunakan kontrol  aktivitas X-gal dan IPTG untuk mengetahui bahwa  IPTG dan X-gal yang digunakan masih baik kondisinya. Pada pembuatan sel kompeten, tidak mendapatkan hasil yang diharapkan, tetapi untuk penyilangan dari media cair berhasil,hal untuk kelompok 2 dan 3 ini dibuktikan dengan terbentuknya hasil dari penyilangan, tetapi belum sempurna.

Percobaan perbanyakan dengan PCR dengan menggunakan komposisi PCR yang terdiri dari Template, Buffer, DNTP mix, primer Forward dan primer Reverse, DMSO, air dan enzyme Polymerase. Kemudian dilanjutkan dengan  tiga tahapan dalam perbanyakan DNA seperti yang dijelaskan di atas tadi. Berdasarkan hasil yang didapat, dapat dilihat bahwa

Elusi bertujuan mengisolasi senyawa atau sampel dari dalam kolom medium sehingga menghasilkan eluen (Setiaji 2006).           Senyawa utama yang digunakan adalah buffer elusi berupa Tris- HCl. Buffer ini berfungsi untuk memurnikan protein (menghilangkan pengaruh ion dari suspensi protein) dan melepaskan protein dari ligan serta menghilangkan kontaminan (Muhaimin 2003 dan Tombe 2009). Selain buffer, senyawa yang digunakan juga ialah SDS (sodium dodecyl sulphate) yakni untuk mendisosiasikan protein menjadi subunitnya (Yuwono 2005).

Dalam elusi ini agar fragmen DNA nya itu tidak bercampur. Fragmen DNA yang tidak bercampur dapat melalui beberapa tahap. Langkah pertama adalah dengan pemisahan fragmen yang ingin diisolasi dari fragmen lain dengan dipotong memakai enzim restriksi. Kemudian dilanjutkan dengan elektroforesis pada gel agarosa. Tahap selanjutnya adalah mendeteksi fragmen yang akan diisolasi dan memotong gel agarosa yang mengandung fragmen tersebut. Tahap selanjutnya adalah dengan mengisolasi fragmen DNA dari gel agarosa.

Percobaan elusi (isolasi fragmen DNA dari gel agarosa) yang dilakukan menunjukkan hasil positif hanya pada sumur 10 saja. Sedangkan pada kelompok dua  tidak menunjukkan hasil yang positif atau gagal. Kegagalan pada sumur lain dapat disebakan fragmen DNA yang akan diisolasi tidak lolos dari penyaringan atau teradsorbsi pada corong sehingga saat suspensi dimasukkan ke dalam gel sebenarnya tidak mengandung fragmen DNA.